Ujungan, Kesenian Tradisional Bekasi Yang Terlupakan

Ujungan, Kesenian Tradisional Bekasi yang Terlupakan – Kesenian tradisional Unjungan terdengar asing di telinga kita. Padahal Unjungan merupakan salah satu kesenian tradisional khas Bekasi.

Saat ini, kesenian ini sudah sangat jarang dipertontonkan dan tidak banyak literatur yang menceritakan detail bagaimana asal mula kesenian ini muncul dan menjadi kesenian tradisional Bekasi. Kesenian unjungan adalah kesenian asli milik anak Betawi, khususnya Betawi Cakung dan Bekasi. Unjungan merupakan tempat para jawara untuk adu nyali dan adu kekuatan daya tahan terhadap pukulan benda tumpul.

M Husein Kamaly seorang tokoh budaya Bekasi menyatakan unjungan berasal dari bahasa Sunda. Jung memiliki arti lutut ke bawah. Beberapa tokok unjungan Bekasi menyatakan bahwa unjungan berasal dari kata ujung (bongkot- dalam bahasa dialek Bekasi), baik ujung rotan maupun ujung kaki. Dalam permainan unjungan ini, yang harus diperhatikan adalah menjaga agar ujung kaki jangan terkena ujung rotan. Ujung kaki dalam konteks ini adalah jari-jari kaki, terutama ibu jari. Karena dapat terluka berat juka terkena pukulan penjug (istilah rotan dalam permainan ujungan).

Unjungan merupakan kesenian bela diri, sebuah pertarungan adu ketahanan dimana masing-masing jawara dilengkapi dengan tongkat sepajang 30-60 cm, unjungan dikenal dengan bela diri dengan tuuan menjegal kaki lawan mengunakan rotan. Masing-masing jawara harus menyerang lawannya dengan menggunakan tongkat yang diberikan, namun pukulan tongkat diarahkan ke bagian kaki di bawah lutut. Pertandingan ini dipimpin oleh seorang wasit yang disebut sebagai Boboto.

Unjungan biasanya ditampilkan untuk merayakan pesta panen. Oleh karena itu pertandingan dilakukan di tengah sawah yang sudah dipanen, pertarungan ini diiringi dengan musik samyong. Awalnya sang penantang yang sebut sebgai “ucul” akan menari diringi dengan alunan musik samyong dan wasit akan mempersilahkan penonton yang ingin melawan penantang untuk maju ke area pertandingan.

Dalam kesenian unjungan, aspek magis kerap mewarnai pertarungan ini, bentuknya bisa berupa azimat yang dibelitkan di pinggang atau bentuk ritual seperti mengusap atau meniup rotan sambil melafazkan doa dan mantra-mantra. Untuk mendapatkan kesaktian, seorang jawara harus memenuhi berbagai persyaratan yang cukup berat seperti berpuasa, menjauhi istri, bertapa atau merendam diri pada malam hari.

Jadi, makin seru kan mengenal budaya dari kota bekasi.

 

(Visited 11 times, 1 visits today)