Keinginan memahami karakter dan potensi anak menjadi alasan utama banyak orang tua mengikuti tes STIFIn. Temuan tersebut disampaikan oleh Licensed Promotor STIFIn, Lemi Nasution, berdasarkan pengalaman mendampingi lebih dari 1.000 peserta tes STIFIn sejak tahun 2020.
Menurut Lemi, sekitar 80 persen peserta yang mengikuti tes dan sesi konsultasi datang dengan tujuan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai karakter, cara belajar, serta potensi anak. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang tua yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga ingin memahami bagaimana anak belajar, berpikir, dan berkembang sesuai karakter alaminya.
“Sebagian besar orang tua datang bukan karena anaknya bermasalah. Mereka justru ingin memahami kenapa anak pertama dan anak kedua bisa sangat berbeda, padahal tumbuh di rumah yang sama. Pertanyaan seperti itu hampir setiap hari saya temui dalam sesi konsultasi,” ujar Lemi Nasution.
Sebagai Licensed Promotor STIFIn yang telah berpengalaman selama enam tahun, Lemi menjelaskan bahwa pembahasan mengenai pendidikan dan pengasuhan anak menjadi topik yang paling sering muncul setelah peserta menerima hasil tes.
Perbedaan Karakter Anak Menjadi Pertanyaan yang Paling Sering Muncul
Dalam berbagai sesi konsultasi, Lemi mengaku sering menemui orang tua yang membandingkan karakter antar anak dalam keluarga.
Ada anak yang mampu duduk tenang dan menikmati membaca buku dalam waktu lama. Sebaliknya, ada anak yang lebih mudah memahami sesuatu ketika terlibat langsung dalam praktik, bergerak aktif, atau mencoba sendiri apa yang sedang dipelajari. Tidak sedikit pula anak yang memiliki imajinasi kuat, senang berkhayal, dan lebih mudah memahami informasi melalui cerita maupun visual. Di sisi lain, beberapa anak cenderung menggunakan perasaan dalam mengambil keputusan sehingga membutuhkan pendekatan komunikasi yang lebih empatik.
Menurut Lemi, perbedaan tersebut sering kali membuat orang tua merasa bingung menentukan cara belajar yang tepat bagi anak.
“Sering kali orang tua menganggap salah satu anak lebih rajin atau lebih pintar karena cara belajarnya terlihat seperti yang diharapkan sekolah. Padahal belum tentu demikian. Ada anak yang memang belajar lebih efektif melalui pengalaman langsung, ada yang melalui diskusi, ada yang melalui imajinasi, dan ada yang lebih kuat pada sisi perasaannya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa ketika orang tua mulai memahami perbedaan tersebut, suasana belajar di rumah biasanya menjadi lebih nyaman dan anak tidak lagi terlalu sering dibandingkan dengan saudara maupun teman sebayanya.
Dari Memahami Anak Hingga Memahami Diri Sendiri

Menariknya, banyak orang tua yang awalnya datang untuk memahami anak justru melanjutkan tes untuk dirinya sendiri maupun anggota keluarga lainnya.
Menurut Lemi, setelah sesi konsultasi berlangsung, tidak sedikit orang tua yang menyadari bahwa perbedaan karakter dalam keluarga juga memengaruhi pola komunikasi dan cara setiap anggota keluarga merespons suatu situasi.
“Awalnya mereka ingin memahami anak. Namun setelah mengetahui hasil dan berdiskusi lebih lanjut, banyak yang mengatakan, ‘Ternyata saya juga ingin memahami diri sendiri.’ Dari situ biasanya mereka mulai tertarik mengenal pasangan atau anggota keluarga lainnya agar komunikasi di rumah menjadi lebih baik,” katanya.
Sebagai ibu dari dua anak dengan karakter yang berbeda, Lemi mengaku pengalaman mendampingi peserta sering kali mengingatkannya pada pengalaman pribadi dalam mengasuh anak.
“Menjadi orang tua membuat saya belajar bahwa tidak semua anak bisa didampingi dengan cara yang sama. Ada hal-hal yang baru benar-benar dipahami ketika kita melihat langsung bagaimana setiap anak memiliki kebutuhan dan cara belajar yang berbeda,” ungkapnya.
Edukasi Berkelanjutan dan Kolaborasi dengan Sekolah

Selain melaksanakan tes berdasarkan jadwal konsultasi dan appointment, edukasi mengenai potensi diri dan karakter individu juga dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai artikel yang dipublikasikan di website teststifin.com.
Dalam waktu dekat, pada periode Juni hingga Juli 2026, Lemi Nasution juga akan terlibat dalam sejumlah program kerja sama dengan sekolah untuk membantu siswa, orang tua, dan pendidik memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai potensi serta karakter belajar masing-masing individu.
Program tersebut diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan bagi siswa dalam proses belajar sekaligus membantu orang tua dan pendidik menemukan pendekatan yang lebih sesuai untuk mendukung perkembangan anak.
Menurut Lemi, pemahaman mengenai karakter dan potensi bukan untuk memberi label kepada seseorang, melainkan sebagai salah satu cara untuk membantu individu mengenali kekuatan yang dimiliki serta lingkungan yang dapat mendukung perkembangannya secara optimal.
Tentang Lemi Nasution
Lemi Nasution merupakan Licensed Promotor STIFIn sejak tahun 2020 yang telah mendampingi lebih dari 1.000 peserta dari berbagai usia dan latar belakang. Selain memiliki lisensi sebagai Promotor STIFIn, Lemi juga memiliki sertifikasi tematik STIFIn di bidang Health, Learning, Parenting, Couple, Human Resources (HR), dan Business.
Melalui layanan konsultasi, edukasi, dan publikasi artikel di website teststifin.com, Lemi aktif membantu masyarakat memahami potensi diri, pola belajar, pola komunikasi, pengasuhan anak, pemilihan jurusan, pengembangan karier, serta hubungan keluarga.

